Friday, April 4, 2025
Artikel

BILA PARA KARYAWAN ENTREPRENEURS: Fenomena Boomerang, Pendekatan Mengelola, dan Pentingnya Pandu Jalur Strategi

Mengembangkan jiwa entrepreneurship di kalangan manajer dan kepala unit dalam sebuah organisasi sering dianggap sebagai strategi efektif untuk meningkatkan inovasi, efisiensi, dan daya saing. Namun, fenomena ini dapat berbalik menjadi “boomerang” yang merugikan organisasi apabila tidak dikelola dengan baik. Artikel ini akan menguraikan bagaimana dorongan untuk berwirausaha di lingkungan manajerial dapat menimbulkan ego individu, memecah kesatuan visi organisasi, dan pada akhirnya merugikan organisasi secara keseluruhan. Artikel ini juga mengulas pentingnya organisasi memiliki pandu jalur strategi, salah satunya dalam bentuk strategic business plan atau rencana strategis bisnis, yang mengakomodir ide dan strategi dari jiwa-jiwa entrepreneurship, yang dirangkai secara intergratif dan interrelasi menyatukan seluruh komponen organisasi, dari manajemen holding hingga tingkat unit kerja dalam sebuah komitmen bersama jangka pendek, menengah, dan panjang. (Widiyas Hidhayanto, 2024)

Jiwa Entrepreneurship

Jiwa entrepreneurship mencakup kemampuan untuk melihat peluang, berani mengambil risiko, serta kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan usaha. Dalam konteks organisasi, manajer dan karyawan dengan jiwa enterpreneurship diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mendorong inovasi dan pertumbuhan.

Fenomena Boomerang

  1. Ego Individu dan Fragmentasi Visi:
    • Ketika manajer, kepala unit, dan karyawan terlalu fokus pada pengembangan unit kerja masing-masing sebagai entitas wirausaha, mereka cenderung mengembangkan visi dan misi yang terpisah dari visi organisasi. Ini dapat menyebabkan fragmentasi visi yang berujung pada konflik internal dan kurangnya koordinasi.
  2. Me-Wirausaha-kan Unit Kerja:
    • Dorongan untuk berwirausaha dapat membuat manajer, kepala unit, dan karyawan melihat unit kerja mereka sebagai usaha pribadi. Mereka mungkin mengutamakan kepentingan pribadi dan unit kerja mereka di atas kepentingan organisasi. Hal ini dapat menyebabkan kompetisi tidak sehat antar unit kerja, alih-alih kolaborasi yang harmonis.
  3. Organisasi sebagai Pondasi, Bukan Tujuan:
    • Ketika manajer dan kepala unit menjadikan organisasi sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi mereka, organisasi kehilangan fungsinya sebagai satu kesatuan. Masing-masing unit kerja menjadi seperti “bangunan” milik pribadi yang berdiri di atas “pondasi” organisasi, tetapi tidak menyumbang pada pembangunan rumah besar organisasi secara keseluruhan.

Beberapa organisasi besar telah mengalami fenomena ini, di mana inisiatif untuk mendorong jiwa enterpreneurship justru menimbulkan kerugian besar karena tidak berhasil meramu keunggulan dan mengikat komitmen. Misalnya, sebuah perusahaan teknologi yang memberikan kebebasan luas kepada kepala unit untuk mengembangkan produk atau lini layanan baru. Alih-alih berkolaborasi, masing-masing unit kerja bersaing satu sama lain, mengabaikan strategi dan tujuan besar perusahaan. Akibatnya, perusahaan kehilangan arah dan pangsa pasar karena tidak memiliki produk unggulan yang koheren.

Mengelola Jiwa Entrepreneurship

Jiwa entrepreneurship tidaklah salah, malah justru dibutuhkan. Namun pada saat berada dalam sebuah kapal besar perusahaan, maka jiwa tersebut perlu dirangkai bersama dengan empati, dikelola dengan bijak, difasilitasi dengan cerdas, dan diawasi dengan jitu agar menghasilkan dampak positif bagi kepentingan organisasi, bukan kepentingan partial masing-masing unit kerja atau individu. Beberapa hal perlu mendapat perhatian khusus para pemimpin dalam pendekatan mengelola jiwa enterpreneurship di dalam lingkungan organisasi atau perusahaan

  1. Kesatuan Visi dan Misi:
    • Organisasi harus memastikan bahwa setiap inisiatif enterpreneurship selaras dengan visi dan misi besar organisasi. Manajer dan kepala unit harus memahami bagaimana inovasi mereka dapat berkontribusi pada tujuan jangka panjang organisasi.
  2. Struktur Penghargaan yang Tepat:
    • Struktur penghargaan harus dirancang untuk mendorong kolaborasi dan bukan kompetisi yang merugikan. Penghargaan dapat diberikan berdasarkan kontribusi terhadap proyek bersama dan kesuksesan organisasi secara keseluruhan, bukan hanya keberhasilan unit kerja individual.
  3. Kepemimpinan yang Kuat:
    • Kepemimpinan yang kuat dan visioner diperlukan untuk menjaga kesatuan organisasi. Pemimpin harus mampu menginspirasi dan memotivasi manajer dan kepala unit untuk bekerja sama menuju tujuan bersama, serta mengatasi ego individu yang berpotensi merusak.

Penting Adanya Pandu Jalur Strategi

Business plan yang adaptif dan integratif sangat penting sebagai pandu jalur strategi organisasi. Business plan yang dirancang dengan baik tidak hanya menjadi dokumen formal, tetapi juga menjadi peta jalan strategis yang menyatukan seluruh komponen organisasi, dari manajemen holding hingga tingkat unit kerja. Sebagai perangkat merangkai komitmen kesatuan visi dan mis. Hal ini membantu organisasi tetap fokus pada tujuan besar mereka sambil tetap fleksibel menghadapi perubahan lingkungan bisnis.

Dengan mengatur proses saling isi dan menguatkan, serta menyediakan panduan yang relevan untuk jangka pendek, menengah, dan panjang, business plan menjadi instrumen penting untuk menjaga kesatuan visi organisasi dan memastikan bahwa seluruh komponen organisasi bergerak harmonis menuju tujuan bersama. Dengan demikian, organisasi dapat menjadi menara pemancar nilai-nilai pelayanan yang unggul dan tangguh menghadapi berbagai badai yang mungkin datang.

Business plan yang adaptif dan integratif dapat menjadi pandu jalur strategi yang esensial bagi organisasi untuk menyatukan visi dan memberdayakan kemampuan kewirausahaan secara cerdas. Inovasi-inovasi yang belum tertuang dalam business plan yang telah disusun dapat menjadi review, adaptasi, dan penyesuaian-penyesuaian business plan di fase implementasi, dan menjadi pembaharuan business plan sesuai situasi terkini. Seluruh elemen dan faktor yang telah di analisis sebelumnya akan disesuaikan, diperbaharui, dihitung ulang, dan dianalisis kembali sehingga  business plan tidak lagi menjadi dokumen formal, namaun akan lebih menjadi sesuatu yang hidup dan beradaptasi dengan lingkungan industri dan bisnis.

Kesimpulan

Mengasah jiwa enterpreneurship di kalangan manajer, kepala unit, dan karyawan dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, hal ini dapat mendorong inovasi dan efisiensi, tetapi di sisi lain, dapat menimbulkan ego individu yang mengancam kesatuan visi organisasi. Oleh karena itu, sangat penting bagi organisasi untuk mengelola jiwa enterpreneurship dengan hati-hati, memastikan bahwa setiap inisiatif selaras dengan visi dan misi organisasi, dan mendorong kolaborasi yang harmonis di antara unit kerja. Business plan yang adaptif dan integratif dapat menjadi pandu jalur strategi yang esensial bagi organisasi untuk menyatukan visi dan memberdayakan kemampuan kewirausahaan secara cerdas. Dengan mengatur proses saling isi dan menguatkan, serta menyediakan panduan yang relevan untuk jangka pendek, menengah, dan panjang, business plan menjadi instrumen penting untuk menjaga kesatuan visi organisasi dan memastikan bahwa seluruh komponen organisasi bergerak harmonis menuju tujuan bersama. Dengan demikian, organisasi dapat memanfaatkan potensi penuh dari jiwa enterpreneurship tanpa kehilangan identitas dan kesatuan mereka. Organisasi dapat menjadi menara pemancar nilai-nilai pelayanan yang unggul dan tangguh menghadapi berbagai badai yang mungkin datang.

 

Widiyas Hidhayanto
widiyas_hid@yahoo.com
Principal Consultant WIDINA management
Strategy, Costing, Finance, Accounting, Operation, Kaizen-Lean, Marketing, Information System

 

NEXT EVENTS

Leave a Reply

error: Content is protected !!